Empat Dekade Menjaga Tradisi: Rahasia 24 Jam di Balik Legitnya Kue Tutun Ko Kiki

Proses pembuatan kue tutun/Keranjang. Foto: Juliansyah.

Bandar Lampung — Uap panas mengepul dari deretan dandang besar di sebuah rumah produksi sederhana di sudut Kota Bandar Lampung.

Aroma manis gula yang mengaramel memenuhi ruangan, bercampur dengan kesibukan tangan-tangan terampil yang bekerja nyaris tanpa henti. Di tempat inilah, Kue Tutun — atau yang lebih dikenal sebagai Kue Keranjang — diproduksi dengan cara yang nyaris tak berubah sejak 1978.

Bagi generasi ke dua pemilik usaha yang akrab disapa Ko Kiki, kue ini bukan sekadar penganan musiman. Ia adalah warisan keluarga, tradisi, sekaligus bukti bahwa kesabaran masih menjadi bahan utama dalam menjaga rasa.

“Prosesnya lama, keseluruhan proses sampai 24 jam dimulai menggiling ketan menjadi tepung, mengadon, menakar dan menimbang ,mengukus sampai di dikemaa sebelum ke tangan pelanggan,” kata Ko Kiki saat ditemui di lokasi produksi, di sela mengawasi puluhan cetakan yang tersusun rapi di dalam kukusan besar.

Proses pembuatan kue tutun/Keranjang. Foto : Juliansyah

Waktu panjang itu bukan tanpa alasan. Campuran tepung ketan dan gula yang awalnya pucat perlahan berubah menjadi cokelat gelap alami melalui proses karamelisasi.

Tanpa tambahan pewarna buatan, warna dan rasa legit muncul murni dari proses pemasakan tradisional.

Produksi Meningkat Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, permintaan Kue Tutun meningkat tajam. Dalam sehari pada masa puncak produksi, Ko Kiki menyebut untuk perkiraan bahan keseluruhan pihaknya dapat mengolah hingga sekitar 4 ton bahan baku sampai mendekati Imlek, terdiri dari tepung ketan dan gula.

Lonjakan produksi itu membuat dapur tradisionalnya berubah menjadi pusat aktivitas 24 jam. Untuk memenuhi pesanan, ia mempekerjakan 14 orang tenaga kerja, ada beberapa orang lagi cadangan tambahan jika terjadi orderan melonjak tajam.

“Mereka bantu di bagian isi cetakan, angkat kukusan, sampai pengemasan. Semua harus teliti karena kalau kurang matang atau terlalu lama, teksturnya bisa berubah,” ujarnya.

Setiap cetakan diperiksa sebelum dikemas. Tekstur yang diinginkan adalah kenyal, padat, dan lengket khas Kue Keranjang, tanpa rasa pahit akibat karamel yang gosong.

Bertahan Sejak 1978
Usaha yang dirintis keluarganya sejak 1978 itu telah melewati berbagai masa sulit, mulai dari krisis ekonomi hingga naik-turunnya harga bahan baku. Namun Ko Kiki memilih mempertahankan cara produksi tradisional, meski membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar.

Ia juga berusaha menjaga harga tetap terjangkau. Saat ini, Kue Tutun produksinya dijual di kisaran Rp30.000 per kilogram, menyesuaikan kondisi bahan baku di pasaran.

“Yang penting pelanggan lama maupun yang baru tetap bisa beli, dan kualitas jangan turun,” katanya.

Bagi banyak pelanggan di Bandar Lampung, Kue Tutun dari rumah produksi ini sudah menjadi bagian dari tradisi keluarga. Kue ini kerap disajikan saat perayaan, dibagikan kepada kerabat, atau disimpan sebagai simbol harapan akan rezeki dan kehidupan yang manis di tahun mendatang.

Tradisi di Tengah Gempuran Jajanan Modern
Di tengah menjamurnya kue modern dan makanan instan, Ko Kiki menyadari usaha tradisional seperti miliknya menghadapi tantangan regenerasi. Proses yang panjang dan melelahkan tak selalu menarik bagi generasi muda.

Meski begitu, ia tetap optimistis. Menurutnya, selama masyarakat masih menghargai makna di balik makanan tradisional, Kue Tutun akan tetap memiliki tempat.

“Ini bukan cuma soal jualan kue. Ada tradisi, ada doa di dalamnya,” ucapnya pelan.

Ia berharap semakin banyak anak muda yang mau belajar dan meneruskan usaha kuliner tradisional, agar cita rasa lama tidak hilang ditelan zaman.

Di sudut ruangan, barisan Kue Tutun yang baru matang mulai diangkat dari kukusan. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya yang cokelat mengilap – hasil dari 24 jam kesabaran yang terus dijaga lintas generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *