LAMPUNG BARAT — OKEHNEWS — Musim panen kopi telah berlalu. Bagi sebagian petani di Sekincau, Lampung Barat, kondisi itu berarti berkurangnya pekerjaan dan pemasukan rumah tangga. Namun, kini ada peluang lain yang mulai memberi harapan: ikut memulihkan hutan melalui kegiatan penanaman dan perawatan pohon.
Bagi Sugeng, warga Srimenanti, kegiatan tersebut bukan sekadar pekerjaan tambahan. Penghasilannya bisa digunakan untuk membantu kebutuhan orang tua sekaligus menabung sebagai persiapan membangun rumah tangga.
“Setelah musim panen kopi selesai, pekerjaan di kebun berkurang. Karena itu, kesempatan ini sangat membantu menambah penghasilan. Sebagian saya tabung untuk persiapan berumah tangga dan sebagian lagi untuk membantu kebutuhan orang tua,” kata Sugeng.
Pengalaman Sugeng menjadi gambaran bagaimana upaya pemulihan lingkungan dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup pada sektor perkebunan.
Di Sekincau, kopi telah menjadi bagian dari kehidupan warga selama puluhan tahun. Sebagian masyarakat bahkan telah mengusahakan kebun kopi sejak 1970-an, jauh sebelum kawasan Bukit Barisan Selatan ditetapkan sebagai taman nasional.
Di sisi lain, kawasan hutan Bukit Barisan Selatan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, melindungi sumber air, serta menjadi habitat satwa liar, termasuk harimau dan gajah Sumatra.
Tantangannya adalah bagaimana menjaga kelestarian hutan tanpa mengabaikan kebutuhan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Pemulihan Hutan Libatkan Masyarakat
Upaya tersebut mulai dilakukan melalui Program Pemulihan Ekosistem yang dijalankan PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau (SEGSS) bersama Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS).
Program ini menyasar kawasan hutan yang mengalami kerusakan dengan melibatkan masyarakat dalam kegiatan penanaman, perawatan, hingga pemantauan pertumbuhan pohon.
Sepanjang 2026, Star Energy menargetkan pemulihan hutan seluas 60 hektare. Dari target tersebut, sebanyak 9.300 pohon asli telah ditanam di lahan seluas 10 hektare.
Program kemudian direncanakan berlanjut pada 2027 dengan penambahan area pemulihan seluas 50 hektare.
Dengan demikian, total komitmen pemulihan yang direncanakan mencapai 110 hektare selama tahap eksplorasi.
Kegiatan tersebut tidak berhenti pada penanaman. Perawatan dan pemantauan juga menjadi bagian penting agar pohon yang ditanam dapat tumbuh dan kawasan yang rusak berangsur pulih.
Keterlibatan warga pun menjadi salah satu unsur penting dalam pelaksanaan program tersebut.
Penghasilan Tambahan untuk Keluarga
Manfaat kegiatan pemulihan hutan juga dirasakan Zainal Abidin, Ketua Kelompok Tani Maju Berkarya Srimenanti.
Ia mengajak warga setempat terlibat dalam kegiatan penanaman dan perawatan pohon. Bagi masyarakat, kesempatan itu menjadi alternatif pekerjaan ketika aktivitas di kebun kopi mulai berkurang setelah musim panen.
“Kesempatan ini membawa berkah, terutama setelah musim panen selesai. Penghasilan tambahan ini membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk kebutuhan dapur dan uang jajan anak sekolah,” ujar Zainal.
Selain memperoleh penghasilan tambahan, masyarakat juga mendapatkan pengalaman baru dalam merawat tanaman.
Zainal berharap kegiatan tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan. Ia juga melihat peluang agar penanaman pohon buah-buahan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi warga pada masa mendatang.
Harapan itu sejalan dengan upaya menjajaki bentuk kerja sama yang memungkinkan masyarakat terlibat lebih jauh dalam kegiatan pemulihan ekosistem.
Ke depan, kelompok tani berpotensi menjadi mitra dalam penyediaan bibit, penanaman, hingga perawatan tanaman. Dengan pola tersebut, keterlibatan warga diharapkan tidak berhenti setelah pohon selesai ditanam.
Petai, Jengkol, dan Durian Jadi Peluang
Salah satu pendekatan yang tengah dipertimbangkan adalah memadukan penanaman pohon hutan asli dengan jenis pohon yang memiliki nilai ekonomi, seperti petai, jengkol, dan durian.
Namun, penerapannya tetap harus mempertimbangkan kondisi lahan, kebutuhan ekologis, serta ketentuan yang berlaku di kawasan taman nasional.
Artinya, upaya membuka peluang ekonomi bagi masyarakat perlu berjalan seiring dengan tujuan utama pemulihan ekosistem.
Head of Social Investment, Policy and Communications PT Star Energy Geothermal, Laksmi Prasvita, mengatakan keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah pohon yang ditanam.
Menurut dia, keberlanjutan perawatan dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar upaya pemulihan memberikan hasil dalam jangka panjang.
“Bagi kami, keberhasilan pemulihan hutan bukan hanya soal berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi bagaimana pohon-pohon tersebut dapat tumbuh dan dijaga dalam jangka panjang. Kami ingin masyarakat ikut mengambil peran, sekaligus menjajaki peluang agar kegiatan menjaga hutan juga memberikan manfaat bagi kehidupan mereka,” ujar Laksmi.
Program tersebut masih berada pada tahap awal. Star Energy Geothermal bersama BBTNBBS dan masyarakat terus menjajaki bentuk kerja sama yang tepat agar pemulihan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peluang ekonomi warga.
Menanam Hari Ini, Menjaga Hutan untuk Masa Depan
Dalam kegiatan pemulihan di Sekincau, sejumlah jenis pohon asli ditanam, antara lain pulai, damar, meranti, medang, dan merawan. Jenis tanaman dipilih berdasarkan kajian lingkungan serta arahan teknis BBTNBBS.
Pohon-pohon tersebut diharapkan dapat membantu memulihkan kawasan yang rusak, memperbaiki kondisi lingkungan, menjaga sumber air, serta mendukung pemulihan habitat berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar.
Upaya ini juga diharapkan dapat membantu menyambungkan kembali bagian-bagian hutan yang terpisah sehingga fungsi ekologis kawasan dapat berangsur membaik.
Namun, pemulihan hutan bukan pekerjaan singkat. Pohon yang ditanam membutuhkan waktu untuk tumbuh, sementara keberhasilannya bergantung pada perawatan, pemantauan, dan perlindungan secara berkelanjutan.
Karena itu, dukungan BBTNBBS, kelompok tani, dan masyarakat sekitar menjadi bagian penting dalam menentukan keberhasilan program.
Bagi warga seperti Sugeng dan Zainal, keterlibatan dalam pemulihan hutan menghadirkan dua harapan sekaligus: memperoleh penghasilan tambahan dan ikut menjaga lingkungan tempat mereka tinggal.
Sebab, hutan yang pulih bukan hanya penting bagi kelestarian alam. Jika dikelola sesuai ketentuan dan melibatkan masyarakat secara berkelanjutan, upaya tersebut juga berpotensi membuka kesempatan ekonomi bagi warga di sekitarnya.












