Metro, (okehnews) – Kopi hasil pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Metro mulai naik kelas.
Tak lagi hanya dijual dalam bentuk bubuk, kopi produksi Lapas Metro kini dikembangkan menjadi minuman siap minum dalam kemasan botol.
Namanya Coffee Pas 24.
Inovasi tersebut menjadi langkah baru Lapas Metro dalam mengembangkan hasil pembinaan kemandirian agar tidak berhenti di balik tembok lapas.
Pengembangan produk kopi ini dilakukan pada Jumat (25/9/2026).
Sebelumnya, kopi produksi Lapas Metro telah dipasarkan dalam bentuk bubuk melalui sejumlah ritel di Kota Metro dan Lampung Tengah.
Kini, produk tersebut mulai menyasar bentuk minuman siap konsumsi yang lebih praktis dan berpeluang menjangkau konsumen lebih luas.
Kepala Subseksi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Lapas Metro, Mirhandika Febrytry, mengatakan, pengembangan bisnis kopi ke depan bakal diarahkan ke beberapa model usaha.
Menurutnya, kopi siap minum dalam kemasan botol menjadi salah satu bentuk pengembangan produk hasil pembinaan kemandirian WBP.
“Kalau kopi dalam cup sebenarnya sudah lebih dulu kita jajakan, tetapi masih untuk masyarakat atau keluarga Warga Binaan yang datang berkunjung ke Lapas. Sekarang kita mulai mengembangkan dalam bentuk botol yang lebih praktis dan bisa dipasarkan lebih luas,” jelas Mirhandika.
Jadi, sebelum Coffee Pas 24 hadir dalam botol, Lapas Metro sudah lebih dulu menjajakan kopi dalam bentuk cup.
Namun, pemasaran kopi cup tersebut masih menyasar masyarakat dan keluarga WBP yang datang berkunjung ke lapas.
Dengan kemasan botol, pengembangan produk diarahkan untuk memperluas peluang pemasaran.
Bukan cuma urusan jualan kopi, pengembangan ini juga menjadi bagian dari pembinaan keterampilan WBP.
Mereka diharapkan mendapatkan pengalaman dalam mengelola hasil produksi, mulai dari pengolahan hingga pengembangan produk yang memiliki nilai jual.
Kepala Lapas Metro, Tetra Destorie, mengatakan, pembinaan kemandirian tidak boleh berhenti hanya pada kemampuan WBP membuat sebuah produk.
Ada tahapan lain yang juga penting, yakni bagaimana produk dikembangkan, dikemas, memiliki nilai ekonomi, dan bisa diterima masyarakat.
“Pembinaan kemandirian tidak berhenti pada bagaimana Warga Binaan bisa membuat sebuah produk. Kita juga ingin mereka memahami bagaimana produk tersebut dikembangkan, dikemas, memiliki nilai jual dan bisa diterima oleh masyarakat. Karena itu, inovasi seperti Coffee Pas 24 ini akan terus kita dorong,” ujar Tetra.
Menurutnya, pengembangan kopi tersebut menjadi salah satu upaya Lapas Metro untuk memberikan pengalaman berwirausaha kepada WBP.
Harapannya, hasil pembinaan tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memberikan keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika WBP kembali ke tengah masyarakat.
“Kita berharap produk-produk hasil pembinaan ini semakin berkembang. Yang paling penting, prosesnya terus berjalan dan Warga Binaan mendapatkan keterampilan yang nantinya bisa menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat,” lanjutnya.
Dengan hadirnya Coffee Pas 24, Lapas Metro terus mendorong pengembangan hasil pembinaan kemandirian melalui inovasi produk kopi.
Dari kopi bubuk hingga minuman siap minum, langkah tersebut menjadi bagian dari proses pembekalan keterampilan dan pengembangan nilai ekonomi bagi Warga Binaan.












