Dari Pengikat Koran hingga ANTARA Foto: Perjalanan Ardiansyah Menembus Dunia Foto Jurnalistik

Bandar Lampung, (okehnews)-Tidak semua perjalanan menjadi fotografer jurnalistik dimulai dari kecintaan terhadap kamera. Ada yang berawal dari kesempatan kerja, proses belajar yang panjang, dan keberanian mengambil peluang yang datang tanpa pernah benar-benar direncanakan.

Bagi Ardiansyah, perjalanan itu bermula pada 2002, ketika ia bekerja di Koran Rakyat Lampung.

Saat itu, pekerjaannya bukan sebagai fotografer. Ia mengawali langkah dari bagian marketing dan ekspedisi. Di balik terbitnya sebuah surat kabar, ada pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum koran sampai ke tangan pembaca. Mengepak koran dan mengantarkannya menjadi bagian dari keseharian yang ia jalani.

Dari pekerjaan itulah, Ardiansyah memulai perjalanan panjangnya di lingkungan media.

Ia belum berada di balik kamera sebagai fotografer jurnalistik. Namun, bekerja di sebuah perusahaan surat kabar memberinya kesempatan untuk mengenal dunia media dari dekat.

Perjalanan menuju profesi fotografer tidak berlangsung dalam semalam. Ada proses belajar, kesempatan, dan orang-orang yang kemudian ikut membentuk kemampuannya.

Belajar dari Karya, Bertumbuh di Lapangan

Ketertarikan terhadap fotografi mendorong Ardiansyah untuk terus belajar. Salah satu fotografer yang menjadi rujukannya adalah Syahroni Yusuf. Ia mempelajari fotografi dengan memperhatikan karya-karya yang dihasilkan, mencoba memahami cara sebuah gambar menyampaikan cerita, serta bagaimana momen dapat diabadikan menjadi sesuatu yang bernilai.

Dalam proses tersebut, Zukri Fahmi turut memberikan bimbingan, terutama ketika berburu gambar di lapangan dan mempelajari teknik fotografi.

Bagi seseorang yang sedang membangun kemampuan, pengalaman langsung seperti itu menjadi bagian penting dari proses belajar.

Fotografi jurnalistik bukan sekadar membuat gambar terlihat menarik. Seorang fotografer harus mampu membaca situasi, menentukan momen, dan menangkap peristiwa dengan tetap memperhatikan fakta.

Kemampuan tersebut tidak terbentuk hanya dengan membaca teori. Ia tumbuh melalui latihan, pengamatan, dan pengalaman menghadapi berbagai situasi di lapangan.

Ardiansyah pun menjalani proses belajarnya secara bertahap.

Kamera Kredit, Modal Keberanian untuk Belajar

Salah satu bagian menarik dari perjalanan Ardiansyah adalah ketika ia membeli kamera Nikon D60 secara kredit.

Keputusan itu menjadi bagian dari usahanya untuk mengembangkan kemampuan fotografi. Kamera tersebut bukan sekadar peralatan kerja, melainkan sarana untuk terus belajar dan mengasah keterampilan.

Membeli kamera dengan cara kredit juga berarti ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Ia perlu menuntaskan kewajiban pembayaran sebelum melangkah ke tahap berikutnya.

Setelah kamera Nikon D60 lunas, Ardiansyah menjualnya dan meningkatkan peralatannya dengan Nikon D1X.

Perjalanan dari satu kamera ke kamera berikutnya menggambarkan proses yang dijalaninya: memanfaatkan apa yang tersedia, belajar dari pengalaman, lalu berusaha meningkatkan kemampuan.

Namun, peralatan bukan satu-satunya penentu kualitas seorang fotografer.

Dalam foto jurnalistik, kemampuan mengenali momen, memahami peristiwa, dan menempatkan gambar dalam konteks berita sama pentingnya dengan penguasaan teknis kamera.

Kamera dapat membantu menghasilkan gambar, tetapi pengalaman dan kepekaanlah yang membuat seorang fotografer mampu menangkap momen yang berarti.

Dari Lampung Menuju Panggung Media Nasional

Perjalanan Ardiansyah kemudian berkembang ke lingkungan media yang lebih luas. Ia pernah berkiprah di VIVAnews sebelum melanjutkan perjalanan profesionalnya di ANTARA Foto.

Bekerja dalam ekosistem media nasional menghadirkan ruang yang lebih luas bagi karya fotografi jurnalistik untuk menjangkau pembaca.

Sejumlah foto yang dihasilkannya pernah menghiasi halaman depan media nasional. Ia juga pernah diundang menjadi narasumber untuk berbagi pengalaman di bidang fotografi jurnalistik.

Pencapaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang tidak bisa dilepaskan dari proses belajar sejak awal.

Ada jarak antara seseorang yang baru mengenal dunia media dan seseorang yang karyanya mendapat tempat di halaman depan sebuah surat kabar. Jarak itu ditempuh melalui pengalaman, peningkatan kemampuan, serta kesempatan untuk terus berkarya.

Perjalanan Ardiansyah menunjukkan bahwa profesi fotografer jurnalistik memiliki prosesnya sendiri. Tidak semua orang memulainya dari posisi yang sama, dan tidak setiap langkah langsung mengantarkan seseorang pada tujuan.

Terkadang, perjalanan justru dimulai dari pekerjaan yang terlihat jauh dari profesi yang kelak dijalani.

Perjalanan yang Belum Selesai

Bagi Ardiansyah, perjalanan dari Koran Rakyat Lampung menuju ANTARA Foto merupakan bagian dari rangkaian pengalaman panjang di dunia jurnalistik.

Pengalaman bekerja di lingkungan media, belajar dari fotografer lain, mengembangkan kemampuan, hingga menghasilkan karya yang menjangkau pembaca nasional menjadi bagian dari proses tersebut.

Namun, perjalanan seorang fotografer jurnalistik tidak berhenti pada pencapaian atau nama media tempatnya bekerja.

Ada banyak hal yang terus berubah: teknologi kamera, cara media menyampaikan berita, kecepatan distribusi informasi, hingga tuntutan terhadap akurasi dan etika dalam menghasilkan gambar.

Di tengah perubahan itu, fotografer jurnalistik tetap memiliki tanggung jawab mendasar: merekam peristiwa dengan jujur dan menghadirkan gambar yang membantu masyarakat memahami apa yang terjadi.

Perjalanan Ardiansyah masih menyimpan banyak cerita tentang pengalaman di lapangan, proses belajar, dan bagaimana fotografi jurnalistik membentuk cara pandangnya terhadap dunia.

Sebab, di balik setiap foto yang sampai kepada pembaca, selalu ada cerita tentang orang yang berada di belakang kamera.

Dan bagi seorang fotografer jurnalistik, perjalanan sesungguhnya bukan hanya tentang gambar yang berhasil diabadikan, melainkan juga tentang proses panjang untuk memahami apa yang layak dilihat, direkam, dan disampaikan kepada publik. (Bersambung).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *