Bandar Lampung – Di bawah langit selatan Lampung, sebuah kawasan luas dengan jalan-jalan lebar dan pepohonan muda perlahan menampakkan wajah barunya. Tak banyak yang tahu, di sinilah dulu pernah tersimpan mimpi besar: membangun sebuah kota masa depan bernama Kota Baru.
Sekian tahun lamanya, kawasan ini nyaris sunyi, hanya menjadi tempat lalu lintas kendaraan berat dan latihan mengemudi. Namun kini, suasananya berubah total. Spanduk besar terpasang di pinggir jalan, suara alat berat bergema dari kejauhan, dan masyarakat dari berbagai penjuru mulai berdatangan.
Kota Baru Jati Agung bersiap menorehkan sejarah. Pada 28–30 November 2025, kawasan ini akan menjadi tuan rumah Ijtima Ulama Sedunia — sebuah pertemuan akbar ribuan ulama dan dai dari berbagai negara, dari Asia hingga Timur Tengah, dari Afrika hingga Eropa.
Dunia Islam akan menatap Lampung.
Sebuah Kota dari Mimpi

Ide membangun Kota Baru bukanlah hal baru. Sekitar tahun 2011, Pemerintah Provinsi Lampung kala itu menggagas rencana besar: memindahkan pusat pemerintahan ke wilayah yang lebih luas dan strategis.
Bandar Lampung, sebagai ibu kota provinsi, sudah padat. Ruang untuk pengembangan terbatas. Maka dipilihlah Jati Agung, sebuah kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan, yang letaknya hanya sekitar 15 kilometer dari pusat kota. Lahan di sini luas, masih hijau, dan mudah diakses dari berbagai arah.
Di atas kertas, rencana itu megah: sebuah kawasan pemerintahan terpadu, dengan gedung-gedung modern, taman kota, dan pusat kegiatan masyarakat. Tahun 2012, pembangunan tahap awal dimulai. Jalan-jalan dibuka, tugu dibangun, plang bertuliskan “Kota Baru Lampung” berdiri kokoh di antara hamparan tanah merah.
Namun waktu berjalan tak sesuai harapan. Setelah pergantian pemerintahan, proyek besar itu kehilangan tenaga. Pembangunan terhenti. Yang tersisa hanya tiang-tiang beton dan jalan sepi yang ditumbuhi ilalang.
Selama hampir satu dekade, Kota Baru menjadi semacam “kota tidur”, saksi dari mimpi besar yang belum sempat jadi nyata.
Suara yang Membuka Jalan
Meski sempat terdiam, geliat kehidupan perlahan kembali terasa. Dari arah utara, datang rombongan jamaah tabligh yang menjadikan area lapang di Kota Baru sebagai tempat berkumpul dan berdakwah.
Tenda-tenda putih berdiri di tanah lapang, azan bergema di antara deretan pepohonan, dan suasana religius mulai mengisi udara. Dari kegiatan itulah, perhatian terhadap Kota Baru kembali muncul.
“Tempat ini luas, tenang, dan strategis. Cocok untuk kegiatan besar umat,” ujar seorang warga yang juga jama’ah tabligh beberapa waktu lalu.
Dari mulut ke mulut, kabar itu menyebar. Hingga akhirnya, panitia internasional Ijtima Ulama memutuskan: Kota Baru Jati Agung akan menjadi lokasi Ijtima Ulama Sedunia 2025.
Dunia Datang ke Lampung
Keputusan itu mengubah segalanya. Pemerintah daerah langsung bergerak. Jalan-jalan diperbaiki, penerangan ditambah, air bersih disiapkan. Warga sekitar menyambut dengan gembira.
Di pasar-pasar, obrolan tentang “Ijtima” terdengar di mana-mana. “Katanya ulama dari Arab datang,” ujar seorang pedagang nasi uduk di Desa Marga Agung, tersenyum. “Semoga rezeki ikut datang juga.”
Diperkirakan ratusan ribu jamaah akan memadati Kota Baru selama tiga hari pelaksanaan. Ulama dari berbagai negara akan berkumpul, berdiskusi tentang dakwah dan persatuan umat Islam. Lampung pun akan menjadi sorotan dunia.
Bagi masyarakat, ini bukan sekadar kegiatan keagamaan. Ini adalah momentum kebangkitan. Kota yang dulu sepi dan terlupakan, kini menjadi pusat perhatian dunia.
Dampak yang Lebih Luas dari Sekadar Acara
Tak hanya secara spiritual, kegiatan ini juga diharapkan membawa dampak ekonomi besar bagi masyarakat. Homestay sederhana, warung makan, hingga usaha kecil mulai bermunculan di sekitar kawasan.
“Biasanya cuma lewat, sekarang banyak orang datang lihat-lihat lokasi,” kata Suyanto, warga Jati Agung yang membuka usaha air galon. “Alhamdulillah, ada harapan baru.”
Pemerintah daerah pun melihat momentum ini sebagai titik balik pembangunan Kota Baru. Setelah Ijtima selesai, kawasan ini akan terus dikembangkan, bukan lagi menjadi proyek tidur, tetapi pusat pertumbuhan baru bagi Lampung Selatan.
Dari Kota Sunyi Menuju Panggung Dunia
Tak ada yang menyangka, kawasan yang dulu dianggap gagal kini justru menjadi simbol kebangkitan. Di atas tanah merah yang dulu sepi, akan berkumpul ribuan orang dari berbagai negara, bersujud, berdoa, dan bermusyawarah demi kemaslahatan umat.
Di sinilah, sejarah baru sedang ditulis — bukan oleh pejabat atau pengembang, tetapi oleh umat yang datang membawa semangat persatuan.
Kota Baru Jati Agung bukan lagi sekadar proyek pembangunan. Ia kini menjadi tanah berkah, tempat pertemuan ilmu, iman, dan harapan.
Dan ketika azan pertama berkumandang di hari pembukaan Ijtima Ulama Sedunia nanti, seluruh dunia akan tahu: dari tanah yang dulu terlupakan di Lampung Selatan, cahaya Islam memancar kembali — membawa pesan damai dari Kota Baru untuk Dunia.












