Pasar Pasir Gintung Rp38 Miliar Jadi Sorotan, Ratusan Kios Kini Kosong

Kondisi lapak di pasar pasir gintung yang di tinggal pedagang. FOTO: Antara FOTO/HO/Istimewa.

Bandar Lampung — Bangunan Pasar Pasir Gintung berdiri megah di tengah Kota Bandar Lampung. Dua lantai, ratusan kios, dan fasilitas modern dibangun menggunakan anggaran negara senilai Rp38 miliar. Pasar itu bahkan diresmikan langsung Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada Agustus 2024 sebagai simbol penataan kawasan perdagangan rakyat.

Namun realitas di lapangan jauh dari harapan.

Alih-alih menjadi pusat ekonomi baru, Pasar Pasir Gintung kini justru terlihat lengang, sunyi, dan minim aktivitas perdagangan. Sebagian besar kios tutup. Lorong-lorong pasar kosong. Di beberapa sudut, suasana pasar bahkan lebih menyerupai gedung tak terpakai dibanding pusat perdagangan rakyat.

Berdasarkan pantauan di lokasi, aktivitas jual beli hanya tampak di sebagian kecil kios lantai dasar. Sementara lantai dua nyaris tanpa aktivitas. Dari total 376 kios yang tersedia, hanya segelintir yang masih aktif digunakan pedagang.

Ironisnya, di luar gedung pasar, pedagang kaki lima (PKL) tetap memenuhi pinggir jalan sekitar Pasir Gintung dan Jalan Pisang. Kondisi yang sejak awal ingin diatasi melalui proyek revitalisasi itu justru masih berlangsung hingga sekarang.

Proyek Besar, Aktivitas Minim

Pembangunan Pasar Pasir Gintung sebelumnya diproyeksikan menjadi solusi penataan PKL dan pengurai kemacetan kawasan perdagangan di pusat Kota Bandar Lampung. Pemerintah mengharapkan para pedagang berpindah ke dalam gedung agar kawasan lebih tertib dan nyaman.

Namun setelah proyek selesai dan pasar diresmikan, perpindahan aktivitas ekonomi ternyata tidak berjalan sesuai rencana.

Sejumlah pedagang mengaku tidak mampu bertahan di dalam pasar karena pembeli sepi dan biaya operasional dinilai memberatkan.

“Kalau di dalam pembeli jarang masuk. Kami dagang untuk hidup, bukan sekadar menempati kios,” ujar Siti, pedagang sayur yang memilih kembali berjualan di luar area pasar.

Pedagang lain, Rahmat, menyebut kondisi di dalam pasar sangat berbeda dibanding ekspektasi awal saat relokasi dilakukan.

“Yang dibangun bagus, tapi pembelinya tidak ada. Kalau terus begini, pedagang yang bertahan bisa habis duluan,” katanya.

Keluhan serupa banyak terdengar dari pedagang yang menilai relokasi hanya fokus pada pembangunan fisik, tanpa memastikan arus pembeli benar-benar masuk ke dalam pasar.

Fasilitas Mulai Dikeluhkan

Tidak hanya sepi pengunjung, sejumlah fasilitas pasar juga mulai menuai keluhan. Beberapa pedagang dan warga menyebut kondisi toilet tidak lagi berfungsi optimal dan sejumlah area pasar terlihat kurang terawat.

Di sisi lain, masyarakat mengaku lebih memilih berbelanja kepada PKL di pinggir jalan karena dianggap lebih cepat dan mudah dijangkau.

“Kalau di luar lebih praktis. Tidak perlu masuk ke dalam yang sepi,” kata Lina, warga sekitar.

Kondisi ini memperlihatkan persoalan klasik dalam banyak proyek revitalisasi pasar tradisional: gedung baru dibangun megah, tetapi pola ekonomi masyarakat tidak ikut berpindah.

Efektivitas Anggaran Dipertanyakan

Besarnya anggaran negara yang digunakan dalam pembangunan pasar kini mulai menjadi sorotan publik. Sebab, tujuan utama proyek untuk menciptakan pusat perdagangan yang hidup dan menata kawasan belum terlihat maksimal.

Pengamat tata kota menilai keberhasilan revitalisasi pasar tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur fisik. Tanpa kajian terhadap perilaku konsumen, akses pengunjung, harga sewa kios, hingga konsistensi penataan PKL, pasar baru berpotensi kehilangan fungsi ekonominya.

Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, Pasar Pasir Gintung dikhawatirkan berubah menjadi proyek mahal yang gagal menghidupkan aktivitas perdagangan rakyat secara berkelanjutan.

Pemda Diminta Tidak Tutup Mata

Situasi Pasar Pasir Gintung saat ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah dan pengelola pasar. Evaluasi menyeluruh dinilai mendesak dilakukan, mulai dari skema tarif kios, perbaikan fasilitas, strategi menarik pengunjung, hingga penataan pedagang di luar area pasar.

Tanpa langkah konkret, revitalisasi yang menelan anggaran Rp38 miliar itu berisiko hanya menyisakan bangunan megah tanpa denyut ekonomi.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola maupun pemerintah daerah terkait rendahnya tingkat keterisian kios serta keluhan pedagang di Pasar Pasir Gintung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *