-
Lampung, (okehnews)- Intensitas abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memang disebut mulai menurun. Namun, satu persoalan belum berubah: abu vulkanik masih terdeteksi di ruang udara sekitar jalur penerbangan.
Kondisi itulah yang membuat Bandara Internasional Radin Inten II belum bisa kembali beroperasi normal pada Senin (7/9/2026).
GM Bandara Internasional Radin Inten II Kiki Eprina Arieanti mengatakan, pihak bandara bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan pemantauan abu vulkanik menggunakan paper test setiap satu jam.
Hasil pemantauan hingga Senin masih menunjukkan abu vulkanik positif.
“Kami melakukan paper test untuk abu vulkanik bersama dengan BMKG setiap satu jam sekali dan hasil paper test masih menunjukkan abu positif,” ujar Kiki.
Menurut dia, intensitas abu memang lebih rendah dibandingkan kondisi pada Sabtu dan Minggu. Namun, berkurangnya intensitas bukan berarti risiko terhadap penerbangan otomatis hilang.
“Secara intensitas dibanding hari Sabtu dan hari Minggu memang berkurang. Tetapi masih ada. Nah, ketika masih ada ini kan berpotensi bagi keselamatan penerbangan,” jelasnya.
Karena itu, penerbangan tidak bisa hanya mengandalkan kondisi yang terlihat secara kasatmata.
Kiki menegaskan, standar keselamatan penerbangan mengharuskan hasil pengujian abu vulkanik menunjukkan kondisi negatif sebelum pesawat dinyatakan layak terbang.
“Karena ini penerbangan itu sifatnya zero tolerance. Paper test harus benar-benar menunjukkan negatif sehingga layak untuk terbang,” tegasnya.
Penutupan ruang udara pada Senin diberlakukan melalui NOTAM mulai pukul 00.01 hingga 18.00 WIB.
Namun, batas waktu tersebut bukan berarti penerbangan otomatis kembali normal setelah pukul 18.00 WIB. Keputusan operasional tetap bergantung pada kondisi terbaru ruang udara dan hasil pemantauan abu vulkanik.
Kiki mengatakan pihak bandara berharap kondisi segera normal. Namun, waktu pemulihan belum dapat dipastikan karena gangguan tersebut dipicu bencana alam di luar kendali operator bandara maupun maskapai.
“Kami juga berharap ini secepatnya normal. Namun lagi-lagi karena ini bencana alam di luar kendali kita, maka kami juga tidak bisa memastikan kapan ini akan berakhir,” pungkasnya.












