Lampung, (okehnews)-Rencana perjalanan ribuan penumpang dari Bandara Internasional Radin Inten II kembali berantakan. Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau membuat puluhan penerbangan dibatalkan pada Senin (7/9/2026).
Hingga pukul 12.00 WIB, tercatat 29 penerbangan dibatalkan dengan 2.810 penumpang terdampak.
General Manager (GM) Bandara Internasional Radin Inten II, Kiki Eprina Arieanti, mengatakan penutupan operasional bandara dilakukan melalui penerbitan Notice to Airmen (NOTAM) untuk aerodrome close. Penutupan ruang udara berlaku mulai pukul 00.01 hingga 18.00 WIB.
“Untuk hari ini, Senin 7 September 2026, terkonfirmasi bahwa kami melakukan NOTAM untuk aerodrome close, penutupan ruang udara mulai dari jam 00.01 sampai dengan 18.00 WIB,” ujar Kiki.
Gangguan penerbangan tersebut bukan baru terjadi Senin. Sejak Sabtu (5/9/2026) sore, operasional penerbangan telah terdampak setelah hasil paper test abu vulkanik di Radin Inten II pada pukul 19.20 WIB dinyatakan positif.
Pada hari sebelumnya, jumlah penumpang yang terdampak pembatalan mencapai 3.412 orang.
Jika digabungkan dengan data Senin, total penumpang yang terdampak selama dua hari mencapai 6.222 orang.
Di tengah kondisi tersebut, penumpang yang penerbangannya dibatalkan tetap memiliki pilihan penanganan. Kiki menjelaskan, mekanisme refund maupun penjadwalan ulang mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 30 Tahun 2021.
Karena pembatalan terjadi akibat bencana alam atau force majeure, penumpang yang memilih membatalkan perjalanan mendapatkan pengembalian biaya tiket sebesar 100 persen.
Sementara penumpang yang memilih reschedule dapat menjadwal ulang penerbangan tanpa biaya hingga 30 hari ke depan. Namun, teknis pelaksanaannya mengikuti ketentuan masing-masing maskapai.
“Kalau reschedule, mereka punya pilihan reschedule tanpa biaya sampai dengan 30 hari ke depan. Namun untuk reschedule ini tergantung masing-masing airline,” jelasnya.
Persoalannya, belum ada kepastian kapan penerbangan kembali normal.
Pihak bandara masih menunggu perkembangan kondisi abu vulkanik serta hasil pemantauan berikutnya. Sebab, keputusan membuka kembali operasional tidak bisa hanya berdasarkan perkiraan, melainkan harus mempertimbangkan aspek keselamatan penerbangan.
“Kami juga berharap ini secepatnya normal. Namun lagi-lagi karena ini bencana alam di luar kendali kita, maka kami juga tidak bisa memastikan kapan ini akan berakhir,” pungkas Kiki.












