Lampung, Sumatra – Akhir 2025 menjadi penutup tahun yang muram bagi warga di sejumlah wilayah di Sumatera. Banjir besar, longsor, rumah roboh, dan infrastruktur yang lumpuh kembali terjadi—seolah mengulang pola bencana yang setiap tahun datang tanpa pernah sungguh-sungguh dicegah.
Namun sebuah ilustrasi yang beredar luas di media sosial memberikan perspektif yang lebih jujur: bencana yang terus berulang bukan hanya soal curah hujan atau faktor alam semata, melainkan bagian dari lingkaran setan yang melibatkan kekuasaan, uang, dan kebijakan yang menyingkirkan ekologi.
Hutan yang Hilang, Tanah yang Rapuh
Gambar tersebut memperlihatkan bagaimana hutan tropis—penyangga alami air dan tanah semakin tergerus oleh pembukaan lahan.
Di banyak daerah, akar-akar pohon besar yang seharusnya menjaga struktur tanah digantikan tanaman sawit yang berakar dangkal.
Dampaknya jelas:
Resapan air hilang
Aliran permukaan meningkat
Lumpur turun dari lereng saat hujan lebat
Longsor dan banjir menjadi tak terhindarkan
Ekosistem yang dulu menjadi benteng alami kini hanya tersisa di sebagian kecil wilayah.
Konversi Lahan dan Cuan yang Mengalir
Ilustrasi itu juga memetakan alur ekonomi yang menyokong kerusakan ini.
Konversi lahan menjadi tambang atau kebun sawit digambarkan sebagai sumber “cuan gede” bagi segelintir pemilik modal.
Dari pajak hingga investasi, uang mengalir ke banyak kantong, lalu menguatkan jejaring kekuasaan.
Di dalam gambar, terlihat jelas tokoh-tokoh: politisi, aparat, pejabat, hingga ormas—semua tersambung dalam satu arus kepentingan.
Konsepnya sederhana namun sarat kritik: kebijakan baru lahir dari modal, dan modal mengalir kepada mereka yang punya kuasa.
Warga di Hilir yang Menanggung Akibat
Sementara itu, di bagian hilir, warga menjadi pihak yang paling dirugikan.
Rumah hanyut, ternak hilang, dan jalan-jalan terputus.
Setiap musim hujan, masyarakat kembali menjadi korban pola kebijakan yang tak berpihak kepada lingkungan.
Ketika bencana terjadi, gambarnya menunjukkan “ritual” yang sudah sangat familiar:
Pejabat turun ke lokasi, tampil sebagai pahlawan, Bantuan dibagikan, kamera menyala, Citra politik dipoles dan disimpan untuk pemilu
Setelah itu waktu berlalu, dan publik kembali lupa hingga bencana datang lagi.
Siklus yang Harus Diputus
Ilustrasi tersebut menutup dengan sindiran tajam terhadap visi besar “Indonesia Emas 2045”.
Di pojok gambar, tampak simbol tengkorak kecil pertanyaan yang menggantung: apakah masa depan emas bisa dicapai jika lingkungan terus dikeruk?
Selama kebijakan pembangunan terus mengabaikan ekologi, selama kekuasaan dan cuan tetap lebih menentukan dibanding keselamatan warga, maka Sumatera—dan Indonesia—akan terus berada di dalam lingkaran setan bencana.
Masalah banjir dan longsor bukan sekadar fenomena tahunan, tetapi refleksi dari tata kelola lingkungan yang rapuh. Ilustrasi tersebut menjadi cermin tajam yang menggugah: bahwa upaya pencegahan bencana harus dimulai dari keberanian mengubah kebijakan, bukan hanya menunggu hujan reda.












