APEKSI Outlook 2025 dibuka, sekedar seremoni atau awal kolaborasi nyata Wali Kota?

Bandar Lampung – Denting budaya dan semangat kolaborasi mengawali APEKSI Outlook 2025 di Kota Bandar Lampung. Tradisi adat Begawi Jejama resmi membuka forum 56 wali kota se-Indonesia. Antusiasme warga dan pelaku UMKM tinggi. Namun di balik gegap gempita seremoni, publik menunggu: apakah ini sekadar perayaan, atau benar-benar awal kerja bersama yang berdampak?

Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana menegaskan, Begawi Jejama bukan ritual kosong. Tradisi ini, kata dia, mengandung makna gotong royong-bekerja bersama demi tujuan bersama.

“Begawi Jejama ini menjadi bagian dari APEKSI Outlook 2025. Artinya bekerja bersama-sama. Ini sejalan dengan semangat APEKSI untuk memperkuat kekompakan para wali kota, berbagi gagasan, dan memperluas jejaring,” ujar Eva Dwiana.

Pernyataan itu terdengar ideal. Tantangannya satu: apakah semangat kebersamaan ini berhenti di panggung acara, atau diterjemahkan ke kebijakan nyata lintas daerah?

Doa Bersama di Tengah Deretan Bencana

Sebelum acara inti, seluruh peserta APEKSI menggelar doa bersama untuk masyarakat Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang tengah dilanda bencana. Sebuah momen reflektif di tengah pesta daerah.

“Semoga saudara-saudara kita diberi kekuatan dan kemudahan dalam pemulihan,” ucap Walikota Eva Dwiana

Namun doa saja jelas tak cukup. Solidaritas antarkota diuji pada langkah konkret, terutama dalam advokasi kebijakan nasional soal mitigasi bencana dan perubahan iklim—isu yang sering jadi pidato, tapi minim aksi kolektif.

Menuju 2026: Forum Strategis atau Sekadar Agenda Tahunan?

Bunda Eva menyebut APEKSI Outlook 2025 sebagai momentum strategis menyongsong 2026. Fokusnya: sinergi antarpemerintah kota, birokrasi efektif, dan layanan publik inovatif.

“Dengan hadirnya teman-teman wali kota di Bandar Lampung, harapannya kita bisa berkolaborasi dan saling menguatkan,” katanya.

Masalahnya, forum-forum seperti ini sering berakhir dengan foto bersama, rekomendasi normatif, lalu senyap. Publik menuntut hasil terukur, bukan sekadar jargon “kolaborasi” yang berulang setiap tahun.

UMKM Ramai, Dampak Jangka Panjang Dipertanyakan

Ratusan pelaku UMKM lokal ikut meramaikan acara. Produk unggulan Bandar Lampung dipamerkan. Peserta APEKSI juga diajak menikmati ikon kota, termasuk JPO Siger Milenial.

Secara ekonomi, efek langsung terasa. Hotel penuh, kuliner laku, transaksi meningkat. Tapi pertanyaan klasik muncul: apakah UMKM hanya jadi pelengkap acara, atau benar-benar masuk dalam skema kebijakan pasca-APEKSI?

Apresiasi Bengkulu, Catatan soal Anggaran

Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi memberi pujian pada penyelenggaraan APEKSI Outlook 2025. Menurutnya, Bandar Lampung sukses menjadikan forum ini bukan sekadar pertemuan elite.

“Ini bukan hanya pertemuan wali kota, tapi juga berkah bagi perekonomian Bandar Lampung,” ujarnya.

Namun Dedy juga melempar catatan penting. Tahun 2026, kata dia, bukan tahun mudah. Penyesuaian anggaran pusat memaksa kepala daerah berpikir lebih cerdas.

“Ini tantangan bagi kepala daerah untuk menyiasati anggaran agar pelayanan publik tidak berkurang dan pembangunan tetap berjalan,” tegasnya.

Pesan ini menohok. Sebab, di tengah efisiensi anggaran, kepemimpinan daerah diuji bukan oleh kemasan acara, tapi oleh keberanian mengambil keputusan sulit.

Ujian Sebenarnya Baru Dimulai

Begawi Jejama telah digelar. APEKSI Outlook 2025 resmi dibuka. Panggung adat telah dilipat. Kini tersisa satu soal besar:

apakah 56 wali kota benar-benar akan “bejama” dalam kebijakan, atau kembali berjalan sendiri-sendiri setelah lampu acara padam? Publik menunggu jawabannya-bukan lewat pidato, tapi lewat kerja nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *