Demokratisasi di Internal Partai Politik

Demokratisasi di Internal Partai Politik
Sekretaris Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung, Darmawan Purba SIP MIP. Foto: Okehnews

Bandarlampung – Demokratisasi di internal partai politik menjadi sorotan pasca viralnya sejumlah anggota keluarga elit partai yang ikut dalam Pemilu Legislatif (Pileg) 2024.

Nepotisme di internal partai politik tidak lepas dari figur pemimpin partai yang memberikan keistimewaan atau kemudahan kepada anggota keluarga atau kerabat dekat tanpa memperhatikan kualifikasi atau kemampuan.

Akademisi Universitas Lampung Darmawan Purba memandang praktik nepotisme di Pileg 2024 disebabkan demokratisasi di internal partai politik tidak optimal karena bertumpu pada figur pimpinan partai politik yang memiliki kekuatan modal.

“Seringkali kita menemukan ketua umum partai politik itu sosok yang punya finansial atau sedang menjabat di pemerintahan. Bukan melalui proses seleksi kepemimpinan,” ujar dia di Bandarlampung, Selasa (29/8/2023).

Menurut Darmawan, pendemokrasian partai politik sulit diwujudkan apabila pembiayaan partai politik oleh negara, secara teknis, sangat jauh dari harapan.

“Bagaimana mau menggerakkan partai politik kalau tidak punya modal ekonomi yang memadai?” Tegas dia.

Apalagi, lanjut dia, partai politik dilarang untuk punya unit usaha atau mendapat donasi dengan tujuan partai tidak menjadi institusi komersil.

“Namun dalam praktiknya, dengan keterbatasan itu, justru di balik layar tetap saja partai politik dihidupi oleh individu atau kelompok yang berbasis modal ekonomi,” kata Darmawan.

Pragmatisme dan transaksional ini memunculkan problematika dalam proses kaderisasi dan rekrutmen anggota partai politik.

Sehingga Darmawan mendorong penyelesaian persoalan integritas partai politik secara menyeluruh.

“Perlu kombinasi, ada komitmen masyarakat yang berhimpun di partai politik untuk membangun kemandirian, termasuk profesionalitas,” ujar dia.

Partai politik diharapkan mengusung bakal caleg yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar kepemimpinan, mengembangkan kebijakan partai, serta melakukan pengabdian kepada masyarakat.

“Di lain sisi, injeksi pendanaan partai politik perlu diperkuat secara berkala. Sehingga partai politik tidak bertumpu pada figur, tetapi gagasan, ideologi, isu yang menjadi karakter perjuangan partai,” pungkas Darmawan.

Baca Juga: Warga Bandarlampung Antusias Sambut Kirab Pemilu 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *