Bandarlampung (okehnews)-Perekonomian Provinsi Lampung mencatat pertumbuhan sebesar 5,58 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan I 2026, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,54 persen (yoy).
Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung yang dipaparkan dalam kegiatan Bincang Media di Bandarlampung, capaian tersebut menempatkan Lampung sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Pulau Sumatra, sekaligus berkontribusi sebesar 10,18 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi kawasan.
Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi motor utama dengan pertumbuhan mencapai 9,89 persen (yoy) dan andil sebesar 2,20 persen, didorong oleh puncak panen raya padi dan jagung di sejumlah wilayah. Sementara itu, sektor perdagangan besar dan eceran tumbuh 6,91 persen (yoy) seiring meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), mulai dari Tahun Baru, Imlek, hingga Ramadan dan Idulfitri 2026.
Dari sisi pengeluaran, permintaan domestik menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,54 persen (yoy), investasi (PMTB) meningkat 4,39 persen (yoy), dan konsumsi pemerintah melonjak 13,84 persen (yoy). Optimisme masyarakat tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada pada level 120,33 serta Indeks Penjualan Riil (IPR) yang meningkat menjadi 240,84. Di sektor keuangan, penyaluran kredit tetap tumbuh positif, terutama pada kredit investasi, dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang terjaga pada level aman.
Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, inflasi di Lampung juga tetap terkendali. Pada April 2026, inflasi tahunan tercatat sebesar 0,53 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional sebesar 2,42 persen. Namun secara bulanan, inflasi mencapai 0,55 persen, meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 0,19 persen, yang dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan seperti minyak goreng, ikan nila, sigaret kretek mesin, beras, dan cabai merah.
Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Lampung sepanjang 2026 berada pada kisaran 5,00 hingga 5,60 persen (yoy), dengan inflasi yang tetap terjaga pada target 2,5 persen plus minus 1 persen. Prospek positif tersebut didukung oleh kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP), penguatan hilirisasi komoditas unggulan, keberlanjutan Proyek Strategis Nasional (PSN), serta percepatan pembangunan infrastruktur.
Meski demikian, risiko eksternal tetap perlu diwaspadai, terutama ketidakpastian global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memicu kenaikan harga energi, biaya logistik laut, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Dampaknya diperkirakan lebih dirasakan sektor industri pengolahan dan usaha yang bergantung pada bahan baku impor, sementara sektor pertanian dan industri berbasis bahan baku lokal dinilai relatif lebih tahan.
Untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhan, sinergi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah terus diperkuat, antara lain melalui koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), guna menjaga daya beli masyarakat serta memastikan momentum pertumbuhan ekonomi Lampung tetap terjaga.












