Inflasi Lampung April 2026 Naik 0,55%, BI: Masih Terkendali di Tengah Tekanan Pangan

Foto grafik ilustrasi AI

Bandarlampung (okehnews)-Inflasi Provinsi Lampung pada April 2026 tercatat sebesar 0,55% secara bulanan (month-to-month/mtm), meningkat dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 0,19% (mtm). Meski demikian, tekanan harga dinilai masih dalam batas terkendali.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik, secara tahunan inflasi Lampung tercatat 0,53% (year-on-year/yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,42% (yoy).

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung menyebutkan, kenaikan inflasi April terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Sejumlah komoditas utama yang menyumbang inflasi antara lain minyak goreng, ikan nila, sigaret kretek mesin, beras, dan cabai merah.

Kenaikan harga minyak goreng didorong oleh meningkatnya biaya input produksi kemasan, seiring lonjakan harga plastik yang dipengaruhi konflik geopolitik global. Sementara itu, harga ikan nila naik akibat peningkatan permintaan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.

Adapun kenaikan harga beras dan cabai merah dipengaruhi berakhirnya masa panen raya serta terbatasnya produksi akibat penundaan masa tanam. Di sisi lain, harga sigaret kretek mesin meningkat seiring kenaikan harga tembakau dan penyesuaian biaya distribusi, termasuk dampak tarif Jalan Tol Bakauheni–Terbanggi Besar.

Namun demikian, tekanan inflasi lebih lanjut tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas, seperti cabai rawit dan daging ayam ras. Penurunan ini didukung oleh meningkatnya pasokan dari sentra produksi lokal serta normalisasi permintaan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 2026.

Selain itu, penurunan harga emas global turut menekan harga emas perhiasan di tingkat domestik.

Risiko Inflasi Masih Perlu Diwaspadai

Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan inflasi Lampung tetap berada dalam kisaran target 2,5±1% (yoy) hingga akhir 2026. Meski begitu, terdapat sejumlah risiko yang perlu diantisipasi.

Dari sisi inflasi inti, tekanan berpotensi meningkat seiring kenaikan permintaan agregat akibat implementasi kenaikan upah minimum serta fluktuasi harga emas global di tengah ketidakpastian geopolitik.

Sementara itu, dari sisi volatile food, risiko berasal dari potensi penurunan produksi akibat curah hujan tinggi pada awal tahun serta kemungkinan peralihan menuju fenomena El Niño lemah pada semester II 2026 yang dapat memengaruhi produksi pangan dan hortikultura.

Dari kelompok administered prices, risiko inflasi antara lain berasal dari potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) serta dampak lanjutan penyesuaian tarif tol terhadap biaya transportasi dan distribusi.

Strategi Pengendalian Inflasi Diperkuat

Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K.

Langkah tersebut meliputi menjaga keterjangkauan harga melalui operasi pasar, memastikan ketersediaan pasokan melalui kerja sama antar daerah, memperlancar distribusi dengan dukungan infrastruktur dan subsidi angkutan, serta memperkuat komunikasi publik guna menjaga ekspektasi inflasi.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Provinsi Lampung, Achmad P. Suberkah, menegaskan bahwa sinergi antar pemangku kepentingan akan terus diperkuat guna menjaga inflasi tetap stabil di tengah dinamika global dan domestik.

Dengan berbagai langkah tersebut, stabilitas harga di Lampung diharapkan tetap terjaga guna mendukung pemulihan dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *