Opini  

Peran Media Sosial Dalam Komunikasi Politik

Foto :Ikustrasi/Internet

 

Penulis : Miftach Noer Ilham

NIM : 2220702033

Fakultas Ilmu Politik

UIN Raden Fatah Palembang

Palembang – Dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia tidak akan pernah lepas dari apa yang disebut komunikasi. Dari anak-anak hingga orang dewasa, dari orang-orang biasa di masyarakat hingga politisi di lembaga parlemen, semuanya membutuhkan komunikasi untuk mengekspresikan pemikiran dan kekhawatiran mereka tentang apapun yang mereka hadapi dalam hidup mereka.

 

Komunikasi juga telah memungkinkan manusia untuk membahas berbagai masalah, membuat konstruksi sosial pada masalah tersebut dan membahayakan solusi untuk menghadapinya.

Komunikasi mengalami evolusi dari waktu ke waktu setelah evolusi peradaban manusia.

 

Cara manusia berkomunikasi satu sama lain dan media yang mereka gunakan untuk komunikasi telah berevolusi dari waktu ke waktu. Sejak zaman dahulu hingga saat ini manusia telah mengembangkan metode dan media komunikasi.

 

Metode komunikasi manusia terbatas pada komunikasi lisan, tatap muka, dan penulisan. Selain itu, media yang digunakan untuk berkomunikasi dengan audiens yang lebih luas juga terbatas pada media komunikasi tradisional seperti sinyal asap dan merpati pembawa yang digunakan untuk menyampaikan pesan tulisan yang ditulis (Yeger, 2015).

 

Sementara di zaman dahulu metode dan media untuk komunikasi sangat terbatas, di era milenial ini mereka telah sangat bervariasi akibat kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

 

Perkembangan TIK telah menyebabkan lahirnya media dan metode baru untuk komunikasi. Akibatnya, saat ini manusia tidak lagi sangat bergantung pada komunikasi lisan dan tertulis, tetapi sekarang mereka juga berkomunikasi secara online menggunakan platform komunikasi media sosial. Media sosial kini telah banyak digunakan untuk komunikasi sehari-hari.

 

Memang, telah digunakan untuk komunikasi politik oleh anggota masyarakat, politisi, dan partai politik (Stieglitz, Brockmann, & Dang-Xuan, 2012). Salah satu contoh keberhasilan dalam upaya menggunakan media sosial untuk komunikasi politik adalah dalam pemilihan presiden Amerika Serikat di tahun 2008.

 

Dalam pemilihan itu mantan presiden Amerika Serikat yaitu Barack Obama mengintegrasikan media sosial dalam strategi kampanye politiknya dan dilakukan secara efektif, dengan maksud untuk mendukung kampanye pemilu offline-nya.

 

Hasilnya, Obama memenangkan pemilihan dan menjabat pada 2009 (Bogost, 2017). Sejak itu, menyusul kesuksesan Obama dengan media sosial, dapat disaksikan peningkatan penggunaan media sosial untuk komunikasi politik seperti dalam kampanye pemilihan presiden dan legislatif di banyak negara di seluruh dunia.

 

Jika dibandingkan dengan Indonesia, sekarang ini hampir semua aspek komunikasi dalam politik didukung oleh media sosial seperti partai politik di Indonesia. Dimana sudah banyak yang memiliki akun Facebook, Instagram, YouTube, dan Twitter di samping website resmi parpol. Sementara politisi masing-masing memiliki juga akun pribadi seperti jajaran para menteri, bahkan akun twitter presiden RI Joko Widodo (@jokowi) berstatus verified account, yang artinya sudah mendapatkan verifikasi dari pihak Instagram.

 

Di sisi Twitter seperti program kerja, pendapat mengenai isu terkini, atau pembicaraan-pembicaraan yang sifatnya ringan, serta menanggapi mention dari masyarakat, adalah hal-hal yang umumnya tercantum dalam linimasa Twitter para tokoh politik tersebut.

Penelitian ini berpendapat bahwa media sosial memainkan peran pendukung dalam memediasi komunikasi politik antara anggota masyarakat, politisi dan partai politik.

 

Bersama dengan media tradisional, media sosial menyediakan jalan alternatif untuk komunikasi politik, membuatnya lebih langsung dan interaktif. Dengan menggunakan media sosial, anggota masyarakat kini dapat lebih mudah menargetkan pejabat publik dan politisi untuk menyampaikan aspirasi, gagasan, dan kritik mereka atas isu dan agenda politik.

 

Meskipun penggunaan media sosial untuk tujuan komunikasi politik memberikan manfaat bagi anggota masyarakat. Namun, itu juga memberikan kerugian bagi mereka sebagai pengguna platform media ini. Oleh karena itu penelitian ini akan secara kritis membahas penggunaan media sosial untuk komunikasi politik.

 

Pertama, akan menguraikan apa itu media sosial, perbedaannya dari media tradisional, dan perannya dalam komunikasi politik. Kedua, itu akan mengatasi potensi keuntungan dan kerugian bagi audiens ketika politisi menggunakan platform media ini untuk memotong media tradisional. Sehingga, pada penelitian ini akan memberikan diskusi, pembahasan, serta kesimpulan terkait media sosial untuk komunikasi politik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bogost, Ian. (2017). Obama was too good at social media. Dostupno Na: Https://Www. Theatlantic.Com/Technology/Archive/2017/01/Did-America-Need-a-Social Mediapresident/512405/[20. Listopada 2017.].

Effing, Robin, Van Hillegersberg, Jos, & Huibers, Theo. (2011). Social media and political participation: are Facebook, Twitter and YouTube democratizing our political systems? International Conference on Electronic Participation, Springer.

Gainous, Jason, & Wagner, Kevin M. (2013). Tweeting to power: The social media revolution in American politics. Oxford University Press.

Howard, Philip N., Savage, Saiph, Saviaga, Claudia Flores, Toxtli, Carlos, & Monroy-Hernández, Andrés. (2016). Social media, civic engagement, and the slacktivism hypothesis: Lessons from Mexico’s “El Bronco.” Journal of International Affairs, 70(1).

Kaplan, Andreas M., & Haenlein, Michael. (2010). Users of the world, unite! The challenges and opportunities of Social Media. Business Horizons, 53(1).

Klinger, Ulrike, & Svensson, Jakob. (2015). The emergence of network media logic in political communication: A theoretical approach. New Media & Society, 17(8).

Lilleker, Darren G. (2015). Interactivity and Political Communication: hypermedia campaigning in the UK. Comunicação Pública, 10(18).

Lim, Merlyna. (2017). Freedom to hate: social media, algorithmic enclaves, and the rise of tribal nationalism in Indonesia. Critical Asian Studies, 49(3).

Norris, Pippa. (2001). Digital divide: Civic engagement, information poverty, and the Internet worldwide. Cambridge university press.

Nulty, Paul, Theocharis, Yannis, Popa, Sebastian Adrian, Parnet, Olivier, & Benoit, Kenneth. (2016). Social media and political communication in the 2014 elections to the European Parliament. Electoral Studies, 44.

Scaramuzzino, Gabriella, & Scaramuzzino, Roberto. (2017). The weapon of a new generation?—Swedish Civil Society Organizations’ use of social media to influence politics. Journal of Information Technology & Politics, 14(1).

Speakman, Burton. (2015). Interactivity and political communication: New media tools and their impact on public political communication. Journal of Media Critiques, 1(1).

Stieglitz, Stefan, Brockmann, Tobias, & Dang-Xuan, Linh. (2012). Usage Of Social Media For Political Communication. PACIS, 22.

Yeger, Herman. (2015). The evolution of human communication. Journal of Cell Communication and Signaling, 9(3).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *