Penulis : Romi Abdillah
Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang
Jurusan Ilmu Politik
Palembang – Masyarakat yang menganut budaya politik partisipan yang diisi oleh kelompok penekan dan kelompok kepentingan melakukan sebuah diskusi dengan pejabat pemerintahah didalam sebuah vorum atau acara yang membahas topik-topik politik dan dari hasil diskusi tersebut bisa saja berdampak baik bagi kelompok kepentingan dan kelompok penekan bahkan masyarkat banyak.
Namun apabila masyarakat tidak dipenuhi aspirasinya dan kebijakan publik tidak sesuai dengan yang diharapkan masyarakat banyak, maka yang menjadi pilihan terakhir bagi masyarakat partisipan adalah demonstrasi, mereka akan melakukan unjuk rasa di depan umum dengan tujuan tertentu, dan tujuan tersebut biasanya menyangkut kebutuhan dan keinginan masyarkat banyak.
Biasanya aksi demo juga dapat berakhir dengan kekacauan, kekerasan dan bahkan kehancuran, apabila pemerintah tidak bisa memenuhi aspirasi atau keinginan rakyat. Hal-hal tersebut paling sering terjadi di kota-kota yang ada di indonesia.
Beralih ke budaya politik kaula, dimana masyarakat yang masuk dalam golongan tersebut sudah maju secara sosial maupun ekonomi namun mereka bersifat fasif, mereka seakan tidak sadar dan tidak peduli dengan sistem pemerintahan yang sedang berlangsung, mereka biasanya berada di daerah perkotaan lebih tepatnya di perumahan-perumahan elit atau komplek dan diisi oleh pengusaha, pembisnis yang tidak berhubungan dengan pemerintahan, mungkin mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak peduli dengan politik yang sedang bergejolak menjelang pemilu mendatang atau mereka memang bersifat fasif terhadap politik dan rana pemerintahan, dan mereka bisa saja baru terlihat aktif saat ada kebijakan politik yang menyinggung pekerjaan dan kepentingan mereka.
Perilaku politik dari setiap individu tentunya akan dapat mempengaruhi perubahan perubahan sebuah kebijakan-kebijakan tertentu, dan perilaku politik seseorang dapat mempengaruhi perilaku politik individu lainya sebab didalam masyarakat pasti terjalin sosialisasi dari kalangan muda sampai ke kalangan tua sekalipun.
Lalu bagaimana dengan saudara kita yang berada jauh di daerah-daerah terpencil dan desa, banyak dari mereka yang masuk kedalam golongan budaya politik parokial karna rendahnya pengetahuan terhadap politik, bahkan banyak dari mereka berpendapat bahwa apapun keputusan dan kebijakan pemerintah bahkan siapapun yang menggenggam rana kekuasaan mereka tidak peduli dengan hal itu, dan banyak dari mereka mempunyai perekonomian yang rendah dan jika ada perekonomiannya yang tinggi mereka memanfaatkan hasil alam dalam bentuk mentah atau baku, tapi ada juga dari mereka yang .
Dari sini sudah terlihat tidak tersentuh rana perpolitikan dan pemerintahan yang terlibat dalam perekonomian mereka, sebagian dari mereka juga tidak ingin ada orang yang berbau politik dan pemerintah mencampuri urusan perekonomian mereka.
Apakah yang menjadi penyebab banyaknya budaya politik parokial di Indonesia di sebabkan oleh pendidikan akan pengetahuan politik yang rendah, bahkan masi banyak sekali masyarakat yang berada di daerah terpencil dan pedalaman yang tidak tersentuh sarana pemerintahan dan masih mempertahankan adat dan tradisi-tradisi tradisional mereka.
Perlahan masyarakat mulai sadar dan mulai tersentuh oleh peradaban politik walau belum merata sepenuhnya mengingat luasnya wilayah Indonesia dan terdiri dari beragam pulau.












