Lampung Timur, (okehnews) – Upaya mencegah gajah Sumatra keluar dari kawasan konservasi Taman Nasional Way Kambas (TNWK) mulai diarahkan pada pendekatan yang memanfaatkan perilaku alami satwa. Salah satunya melalui pengembangan pagar sarang lebah di sejumlah titik batas kawasan.
Program tersebut tidak hanya ditujukan untuk mengurangi interaksi negatif antara gajah dan manusia. Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra TNWK juga mengintegrasikannya dengan pemberdayaan masyarakat desa penyangga melalui budidaya lebah madu jenis Apis cerana.
Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra TNWK Brigjen TNI Sriyanto mengatakan, konflik manusia dan gajah di sekitar kawasan konservasi merupakan persoalan yang telah berlangsung cukup lama.
Menurut dia, persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan pengamanan kawasan. Diperlukan strategi yang menggabungkan aspek konservasi, teknologi, serta keterlibatan masyarakat.
“Untuk mengatasi hal ini diperlukan solusi terpadu, seperti menciptakan kawasan satwa liar, memanfaatkan teknologi, dan mendorong upaya konservasi berbasis komunitas,” kata Sriyanto.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah pagar sarang lebah atau beehive fence. Metode tersebut memanfaatkan respons alami gajah terhadap keberadaan lebah.
Sriyanto menjelaskan, suara dengungan lebah maupun potensi sengatan diharapkan membuat gajah menghindari area yang dipasangi sarang. Dengan demikian, pagar tersebut diharapkan dapat menjadi penghalang alami tanpa melukai satwa.
“Pagar sarang lebah adalah salah satu solusi berbasis alam yang telah diujicoba di Afrika untuk mencegah gajah keluar dari kawasan konservasi. Suara dengungan dan sengatan lebah akan membuat gajah merasa takut dan menjauh, namun tidak membahayakan gajah,” ujarnya.
Namun, efektivitas metode tersebut tetap membutuhkan pengujian dan pemantauan di lapangan. Kondisi ekosistem, karakter gajah Sumatra, hingga keberadaan koloni lebah menjadi faktor yang perlu diperhatikan sebelum pendekatan tersebut dapat diterapkan secara lebih luas.
Di sisi lain, keberadaan sarang lebah diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TNWK. Warga tidak hanya berperan sebagai penerima program, tetapi juga dapat mengembangkan budidaya lebah sebagai sumber pendapatan alternatif.
Jenis lebah yang dikembangkan adalah Apis cerana, salah satu lebah madu yang dapat dibudidayakan di wilayah tropis.
Dalam rancangan program tersebut, satu koloni Apis cerana diproyeksikan menghasilkan sekitar 5–8 kilogram madu per tahun. Jika menggunakan asumsi harga jual Rp150 ribu per kilogram, sepuluh koloni secara matematis berpotensi menghasilkan sekitar Rp7,5 juta hingga Rp12 juta per tahun.
Angka tersebut merupakan potensi berdasarkan asumsi produksi dan harga, bukan pendapatan yang otomatis diterima setiap peternak. Hasil riil dapat dipengaruhi tingkat produktivitas koloni, kondisi lingkungan, biaya pemeliharaan, serta harga jual madu.
Program tersebut juga dikaitkan dengan meningkatnya kebutuhan madu nasional. Dalam bahan acuan program disebutkan konsumsi madu masyarakat Indonesia masih relatif rendah, sementara kebutuhan nasional sebagian masih dipenuhi melalui impor.
Selain nilai ekonomi, budidaya lebah memiliki fungsi ekologis. Keberadaan lebah sebagai serangga penyerbuk dapat membantu proses reproduksi berbagai tanaman, termasuk tanaman pertanian yang berada di sekitar kawasan penyangga.
“Keberadaan lebah membantu menjaga ekosistem, membantu proses penyerbukan tanaman di sekitar perkebunan warga,” kata Sriyanto.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena persoalan interaksi manusia dan gajah tidak hanya menyangkut keberadaan satwa liar. Di sisi lain, masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan juga memiliki kebutuhan untuk memperoleh penghidupan yang aman dan berkelanjutan.
Karena itu, keberhasilan program pagar lebah nantinya tidak cukup diukur dari kemampuan mengurangi pergerakan gajah keluar kawasan. Dampak terhadap keselamatan warga, keberlanjutan populasi lebah, produktivitas madu, serta manfaat ekonomi bagi desa penyangga juga perlu menjadi bagian dari evaluasi.
Dengan pendekatan tersebut, pagar lebah diharapkan tidak berhenti sebagai pembatas fisik di perbatasan kawasan konservasi. Program ini diarahkan menjadi bagian dari strategi mitigasi konflik yang sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi dari upaya menjaga ekosistem TNWK.












