Lampung Timur – Api boleh padam. Namun, perang melawan karhutla di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) belum benar-benar selesai.
Bara yang masih tersembunyi di balik semak dan alang-alang menjadi sasaran berikutnya. Tim Alfa dari Mabes TNI diterjunkan ke kawasan sulit dijangkau untuk memburu hotspot yang berpotensi kembali memicu kebakaran.
Operasi tersebut berlangsung Selasa (25/8/2026). Sebanyak 40 personel penerjun payung dikerahkan menggunakan pesawat Hercules. Sementara itu, 15 personel lainnya diturunkan dari helikopter menggunakan tali menuju lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Sebelum personel diterjunkan, tim terlebih dahulu melakukan surveillance menggunakan drone termal. Teknologi tersebut digunakan untuk mencari anomali suhu di kawasan yang sebelumnya terdampak kebakaran.
Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan, langkah tersebut dilakukan berdasarkan instruksi Presiden Prabowo Subianto dan Panglima TNI.
“Tadi sudah kita adakan surveillance dulu, pengamatan menggunakan termal, di mana kira-kira titik-titik api yang masih mungkin menjadi bara dan menimbulkan kebakaran,” kata Kristomei saat ditemui di TNWK, Selasa (25/8/2026).
Setelah titik-titik yang dicurigai terpetakan, Tim Alfa diterjunkan ke medan yang sulit diakses. Langkah itu diharapkan mempercepat penanganan titik panas sekaligus mencegah kebakaran kembali meluas.
“Kemudian tadi kita terjunkan Tim Alpha, sesuai dengan instruksi dari Bapak Presiden dan Panglima TNI, mereka kita terjunkan di tempat-tempat yang susah dijangkau, di tempat-tempat yang masih memungkinkan hotspot itu ada, sehingga bisa lebih mempercepat proses pemadaman api,” ujarnya.
Drone Termal Cari Anomali Suhu
Pemantauan udara menjadi bagian penting dalam operasi lanjutan tersebut. Sebab, titik panas tidak selalu terlihat sebagai kobaran api dari permukaan.
Kristomei menjelaskan, drone termal digunakan untuk menemukan lokasi yang memiliki suhu berbeda dibandingkan tanah di sekitarnya.
“Masih ada titik-titik yang memungkinkan karena suhunya berbeda dengan suhu tanah sebenarnya, dia masih kuning atau merah. Nah itu yang harus kita waspadai,” katanya.
Titik panas yang ditemukan kemudian menjadi sasaran personel di lapangan. Selain pengerahan pasukan, dukungan water bombing dan drone penyemprot juga disiapkan untuk menjangkau kawasan yang sulit didatangi melalui jalur darat.
“Sore ini juga kita datangkan drone semprot dengan kapasitas 16 liter, 30 liter, dan 100 liter, sehingga bisa bolak-balik ngisi, diterbangkan ke tempat-tempat yang memang susah dijangkau dengan jalan kaki,” ujar Kristomei.
Bukan Sekadar Padamkan Api
Penanganan karhutla di TNWK kini tidak hanya berfokus pada kobaran yang terlihat. Tim gabungan juga berupaya menurunkan suhu tanah di sekitar titik panas agar bara yang tersisa tidak kembali berkembang menjadi api.
“Dengan adanya water bombing, dengan adanya pelibatan drone semprot nanti, itu diharapkan bisa mengademkan suhu tanah, juga bisa mencegah hotspot tadi menjadi bara api lagi,” kata Kristomei.
Upaya tersebut diharapkan dapat menekan munculnya titik panas baru di kawasan konservasi TNWK.
“Harapannya jangan ada lagi tambahan-tambahan atau timbul lagi hotspot atau titik-titik api baru,” ujarnya.
Ratusan Hektare Terdampak
Berdasarkan data yang disampaikan Kristomei, kebakaran pada 21–22 Agustus 2026 berdampak terhadap sekitar 673 hektare kawasan di Desa Braja Harjosari.
Selanjutnya, pada 23–24 Agustus, sekitar 123 hektare terdampak di wilayah Braja Kencana dan Braja Luhur. Kebakaran juga tercatat terjadi di Rantau Jaya dengan luas terdampak sekitar 6,4 hektare.
Menurut Kristomei, kawasan yang terdampak kebakaran didominasi vegetasi savana dan alang-alang.
“Jadi luasan sekitar 600 hektar itu adalah alang-alang itu, Pak. Jadi savana, savana alang-alang,” katanya.
Penanganan karhutla dilakukan secara terpadu untuk mencegah api kembali muncul sekaligus menjaga kawasan konservasi TNWK. Perlindungan habitat satwa liar, termasuk gajah dan badak, menjadi bagian penting dari upaya penanganan kebakaran tersebut.












